
ANDA ADALAH ANGGOTA IKAMA (IKATAN ALUMNI SMAN PLUS MATAULI ?
APA YANG ANDA INGINKAN UNTUK KEMAJUAN IKAMA?
MEMASARKAN KOMUNITAS IKAMA
Sudah menjadi banyak pertanyaan bagaimana sebuah ikatan alumni membiayai kegiatannya? Beberapa yang sudah dilakukan antara lain mengumpulkan sumbangan dari para anggotanya, menggaet donator, mencari sponsor dalam suatu acara atau lebih modern adalah memiliki usaha sendiri. Pada kesempatan ini akan dicoba ditawarkan salah satu metode lainnya yang saya sebut menjual komunitas.
Jujur saja ini bukan ide baru namun sedikit modifikasi dari yang sudah ada selama ini. Kita mungkin kenal atau pernah mendengar komunitas pengendara Harley Davidson. Komunitas ini memiliki kegiatan tahunan dimana semua pengendara Harley berkumpul pada suatu tempat untuk berbagi pengalaman dan atau melakukan kegiatan bersama. Perusahaan pembuat Harley mengakomidasi kegiatan mereka antara lain dengan membuat pemberitaan khusus dalam website mereka. Model seperti ini terus mempertahankan citra Harley sebagai motor yang ekslusif.
Contoh lain yang mau diangkat adalah Radiitya Dika. Seorang pemuda yang memulai “karirnya” dari menulis blog. Isi blognya mungkin tidak canggih namun dengan cara seperti itu malah membuat orang banyak tertarik. Raditya kemudian menjadi bintang film dari cerita blog nya dan hari ini sering muncul di tv menjadi bintang iklan atau diundang dalam berbagai acara, intinya Raditya sudah menjadi selebriti.
Tokoh lain yang ingin saya angkat adalah pandji. Rhenald Kasali mengangkat kasusnya cukup dalam dalam bukunya yang termutakhir “Cracking Zone”. Sinfkat ceritanya Pandji tidak terima dengan statusnya yang dianggap pelawak, lalu kemudian melakukan branding dengan membuat blog dan memberdayakan jejaring social seperti facebook dan twitter.. Dalam blognya dia menjual album secara gratis dalam websitenya dan juga membuat tagline propocative proactive. Hasilnya: pandji menjadi endorser untuk berbagai produk seperti Nokia, Lifeboy dan sekarang memiliki acara sendiri di televisi.
Nah, dari contoh-contoh di atas saya mengajak kita membuat hal yang sama untuk Ikama: Pemasaran komunitas. Sebelumnya saya kira kita sudah tahu ada beberapa hal mengapa Harley, raditya atau pandji menjadi seperti iitu. Mereka ingin membangun image nya yang diyakini mewakili kelompok tertentu di masyarakat. Bagi perusahaan yang mengontrak Raditya dan Pandji, kelompok itu adalah target penjualan mereka atau dalam paradigma pemasaran sekarang disebut customer atau bahkan rekan berkembang. Lalu bagaimana kita menerapkannya ke ikatan alumni matauli?
Pertama, Ikama memiliki anggota yang cukup banyak. Sejauh ini alma mater kita sudah meluluskan 14 angkatan dan kalau dikali rata-rata 200 per angkatan adalah sejumlah 2800 orang. Setengah lebih dari jumlah tersebut sudah memiliki pendapatan sendiri atau memiliki daya beli atau kira 1000 orang. Kedua, jika jumlah ini dikalikan dengan rata-rata pendapatan nasional Indonesia yang sudah US$3,000 maka itu adalah sekitar 3,000,000 atau tiga juta dollar atau kira-kira 27 miliar rupiah dengan kurs Rp.9000/US$!! Jumlah yang sungguh luar biasa. Saya yakin banyak perusahaan yang ingin mencapai komunitas dengan daya beli sebesar ini.
Masalahnya adalah bagaimana kita mengumpulkan jumlah yang 2800 orang tersebut dan bagaimana kita menampilkan bahwa daya beli anggota ikama kira-kira sama dengan yang saya gambarkan di atas. Pertama-tama tentu kita harus mengumpulkan semua alumni yang tercerai-berai, satu demi satu. Kedua, menampilkan profil mereka seperti pekerjaan, kalau mungkin penghasilan dan lain-lain. Ketiga, semua potensi ini dikumpulkan dalam beberapa media yang relative terbatas agar kegiatannya bisa terpantau dan dapat dipublikasikan. Lalu lintas komunikasi antar anggota berjalan sedemikian intensnya sehingga orang-orang di luar kita mengajak kita bekerja sama.
Aku yakin pemikiran seperti ini sudah ada dalam kepala kita. Namun dalam kesempatan ini aku ingin menyampaikan tujuan bersama kita. Agar kita menjadi komunitas yang solid, dipercaya. Pada akhirnya kita bisa melaksanakan berbagai tujuan besar kita selama ini. Sebutlah pendidikan bagi adik-adik kita, bantuan kesehatan kepada masyarakat atau sekedar secretariat buat tempat kita berkumpul.
Bagaimana caranya? Salah satu yang penting saya kira kita menetapkan beberapa media terbatas yang akan kita gunakan sebagai tempat berkumpul. Dalam kesempatan ini saya akan menitik beratkan pada media elektroni terutama jejaring social. Hari-hari ini kita sudah memiliki berbagai fan book di facebook tetapi setiap daerah memilikinya. Tidak salah sama sekali sebenarnya. Tapi media tersebut belum maksimal dari jumlah anggota yang direkrutnya dan kualitas komunikasi yang ada didalamnya. Kita harus membuat tim yang berisikan anggota yang terus menerus mengisi dan meramaikan fanbook tersebut. Kita juga harus memanfaatkan blog. Saya yakin banyak anggota sudah memiliki blog. Alangkah baiknya semua blog itu kita tampung dalam satu blog bersama. Link semua anggota kita buat disana dan tiap anggota diharapkan mengisi blog tersebut. Terakhir, kita bisa membuat satu media yang mengcover semua kegiatan ini. Saya mengusulkan majalah online. Sebuah majalah yang berisikan semua kegiatan dan potensi alumni. Kita buat majalah ini secara online sehingga biayanya akan nyaris nol. Kita rekrut bakat-bakat menulis diantara para anggota untuk menghidupkannya. Kita ajak bakat-bakat desain dan menggambar anggota agar membuat majalh itu hidup. Lalu inilah yang akan kita sampaikan ke berbagai pihak yang kita ajak kerja sama.
dapat diperoleh di blog
http://rajaaminhasibuan.blogspot.com/2011/03/memasarkan-komunitas-ikama.html
mohon pencerahannya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar