Total Tayangan Halaman

Senin, 11 Juni 2012

Apa itu WhatsApp?



WhatsApp Messenger ADALAH sebuah aplikasi messenger di Mobile Phone yang mendukung multi platform dan bekerja menggunakan jaringan internet. (Didukung iPhone, BlackBerry, Android dan Symbian S60).

Jangan bingung-bingung, cukup baca perhatian "Untuk Diingat dan Tambahan Untuk Diingat" yang berikut ini :

Untuk Diingat 

1. WhatsApp Registrasi, tidak perlu data pribadi (nama, jenis kelamin, dsb), Di awal instalasi kita hanya memasukkan nomer hp, yg berguna sebagai identitas (id) kita di WhatsApp (mirip PIN BB/BBM).
2. WhatsApp Friendlist otomatis Sync dari daftar phonebook hp kita.
3. WhatsApp tidak perlu login seperti di aplikasi chat lain (YM, Gtalk, dll).
4. WhatsApp bisa Share Picture, Audio, dll.
5. WhatsApp Chat-History tersimpan selama tidak kita hapus.
6. WhatsApp Notification (mengirim, terkirim, diterima) bisa dilihat dari jumlah icon centang di setiap pesan yang dikirim.

 Tambahan Untuk Diingat :
a.      Apabila nomer HP kita belum tidak terdaftar di phonebook teman kita, dimana kita mengirim sebuah pesan kepadanya, maka nomer HP kitalah yang muncul sebagai ID kita di hp teman, sama halnya dengan SMS biasa.
b.      Teman kita (di Phonebook hp kita) yang sudah menginstall WhatsApp otomatis akan terdaftar di WhatsApp Friendlist kita.
c.       chat via WhatsApp bisa menggunakan koneksi wi-fi dan GPRS dari operator seluler kita.
d.   Chat-History bila tidak dihapus akan memakan memori, cara mensiasati agar tidak makan memori yaitu mengirim chat-history ke e-mail apabila ingin menyimpannya percakapan)



Semoga mengerti....! 
kurang? buka situs resminya dan klik FAQ 

Rabu, 13 Oktober 2010

IKAMA SIBOLGA TAPANULI TENGAH


ANDA ADALAH ANGGOTA IKAMA (IKATAN ALUMNI SMAN PLUS MATAULI ?

APA YANG ANDA INGINKAN UNTUK KEMAJUAN IKAMA?

MEMASARKAN KOMUNITAS IKAMA


Sudah menjadi banyak pertanyaan bagaimana sebuah ikatan alumni membiayai kegiatannya? Beberapa yang sudah dilakukan antara lain mengumpulkan sumbangan dari para anggotanya, menggaet donator, mencari sponsor dalam suatu acara atau lebih modern adalah memiliki usaha sendiri. Pada kesempatan ini akan dicoba ditawarkan salah satu metode lainnya yang saya sebut menjual komunitas.

Jujur saja ini bukan ide baru namun sedikit modifikasi dari yang sudah ada selama ini. Kita mungkin kenal atau pernah mendengar komunitas pengendara Harley Davidson. Komunitas ini memiliki kegiatan tahunan dimana semua pengendara Harley berkumpul pada suatu tempat untuk berbagi pengalaman dan atau melakukan kegiatan bersama. Perusahaan pembuat Harley mengakomidasi kegiatan mereka antara lain dengan membuat pemberitaan khusus dalam website mereka. Model seperti ini terus mempertahankan citra Harley sebagai motor yang ekslusif.

Contoh lain yang mau diangkat adalah Radiitya Dika. Seorang pemuda yang memulai “karirnya” dari menulis blog. Isi blognya mungkin tidak canggih namun dengan cara seperti itu malah membuat orang banyak tertarik. Raditya kemudian menjadi bintang film dari cerita blog nya dan hari ini sering muncul di tv menjadi bintang iklan atau diundang dalam berbagai acara, intinya Raditya sudah menjadi selebriti.

Tokoh lain yang ingin saya angkat adalah pandji. Rhenald Kasali mengangkat kasusnya cukup dalam dalam bukunya yang termutakhir “Cracking Zone”. Sinfkat ceritanya Pandji tidak terima dengan statusnya yang dianggap pelawak, lalu kemudian melakukan branding dengan membuat blog dan memberdayakan jejaring social seperti facebook dan twitter.. Dalam blognya dia menjual album secara gratis dalam websitenya dan juga membuat tagline propocative proactive. Hasilnya: pandji menjadi endorser untuk berbagai produk seperti Nokia, Lifeboy dan sekarang memiliki acara sendiri di televisi.

Nah, dari contoh-contoh di atas saya mengajak kita membuat hal yang sama untuk Ikama: Pemasaran komunitas. Sebelumnya saya kira kita sudah tahu ada beberapa hal mengapa Harley, raditya atau pandji menjadi seperti iitu. Mereka ingin membangun image nya yang diyakini mewakili kelompok tertentu di masyarakat. Bagi perusahaan yang mengontrak Raditya dan Pandji, kelompok itu adalah target penjualan mereka atau dalam paradigma pemasaran sekarang disebut customer atau bahkan rekan berkembang. Lalu bagaimana kita menerapkannya ke ikatan alumni matauli?

Pertama, Ikama memiliki anggota yang cukup banyak. Sejauh ini alma mater kita sudah meluluskan 14 angkatan dan kalau dikali rata-rata 200 per angkatan adalah sejumlah 2800 orang. Setengah lebih dari jumlah tersebut sudah memiliki pendapatan sendiri atau memiliki daya beli atau kira 1000 orang. Kedua, jika jumlah ini dikalikan dengan rata-rata pendapatan nasional Indonesia yang sudah US$3,000 maka itu adalah sekitar 3,000,000 atau tiga juta dollar atau kira-kira 27 miliar rupiah dengan kurs Rp.9000/US$!! Jumlah yang sungguh luar biasa. Saya yakin banyak perusahaan yang ingin mencapai komunitas dengan daya beli sebesar ini.

Masalahnya adalah bagaimana kita mengumpulkan jumlah yang 2800 orang tersebut dan bagaimana kita menampilkan bahwa daya beli anggota ikama kira-kira sama dengan yang saya gambarkan di atas. Pertama-tama tentu kita harus mengumpulkan semua alumni yang tercerai-berai, satu demi satu. Kedua, menampilkan profil mereka seperti pekerjaan, kalau mungkin penghasilan dan lain-lain. Ketiga, semua potensi ini dikumpulkan dalam beberapa media yang relative terbatas agar kegiatannya bisa terpantau dan dapat dipublikasikan. Lalu lintas komunikasi antar anggota berjalan sedemikian intensnya sehingga orang-orang di luar kita mengajak kita bekerja sama.

Aku yakin pemikiran seperti ini sudah ada dalam kepala kita. Namun dalam kesempatan ini aku ingin menyampaikan tujuan bersama kita. Agar kita menjadi komunitas yang solid, dipercaya. Pada akhirnya kita bisa melaksanakan berbagai tujuan besar kita selama ini. Sebutlah pendidikan bagi adik-adik kita, bantuan kesehatan kepada masyarakat atau sekedar secretariat buat tempat kita berkumpul.

Bagaimana caranya? Salah satu yang penting saya kira kita menetapkan beberapa media terbatas yang akan kita gunakan sebagai tempat berkumpul. Dalam kesempatan ini saya akan menitik beratkan pada media elektroni terutama jejaring social. Hari-hari ini kita sudah memiliki berbagai fan book di facebook tetapi setiap daerah memilikinya. Tidak salah sama sekali sebenarnya. Tapi media tersebut belum maksimal dari jumlah anggota yang direkrutnya dan kualitas komunikasi yang ada didalamnya. Kita harus membuat tim yang berisikan anggota yang terus menerus mengisi dan meramaikan fanbook tersebut. Kita juga harus memanfaatkan blog. Saya yakin banyak anggota sudah memiliki blog. Alangkah baiknya semua blog itu kita tampung dalam satu blog bersama. Link semua anggota kita buat disana dan tiap anggota diharapkan mengisi blog tersebut. Terakhir, kita bisa membuat satu media yang mengcover semua kegiatan ini. Saya mengusulkan majalah online. Sebuah majalah yang berisikan semua kegiatan dan potensi alumni. Kita buat majalah ini secara online sehingga biayanya akan nyaris nol. Kita rekrut bakat-bakat menulis diantara para anggota untuk menghidupkannya. Kita ajak bakat-bakat desain dan menggambar anggota agar membuat majalh itu hidup. Lalu inilah yang akan kita sampaikan ke berbagai pihak yang kita ajak kerja sama.


dapat diperoleh di blog
http://rajaaminhasibuan.blogspot.com/2011/03/memasarkan-komunitas-ikama.html

mohon pencerahannya...

Sabtu, 21 November 2009

PERMASALAHAN SEPUTAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB)

Apa sebab PBB sulit mencapai target (100%) sesuai dengan Daftar Himpunan Ketetapan Pajak (DHKP)? berikut beberapa sebab berdasarkan pengalaman bekerja di Kelurahan dan Kecamatan.

1. Objek Pajak Ganda.

Mengapa?

a. petugas pendata sewaktu mendaftarkan Wajib Pajak (WP) baru, mengisi 2 (dua) formulir dengan Objek Pajak (OP) yang sama sehingga terbit 2 (dua) buah Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) PBB (terkadang petugas entri di Kantor Pajak tidak melakukan koordinasi dengan petugas pendata dan atau petugas entri tidak punya wewenang langsung dalam menambah atau mengurangi data yang diterimanya ; kelalaian petugas

b. pendaftaran WP baru dengan cara kolektif dimana WP yang didaftarkan ada dengan nama lengkap dan dengan nama Alias ; kelalaian Petugas dan WP.

(Usulkan untuk di Bekukan atau dihapus salah satunya)


2. Objek Pajak Tidak Dikenal ;

Mengapa ?

a. petugas pendata sewaktu mendaftarkan WP baru tidak mempedomani Syarat-syarat pengurusan (persyaratan yang dipenuhi tidak lengkap). Artinya petugas menjalankan prosedur tidak sebagaimana mestinya (biasanya ada unsur sengaja dalam membantu si wajib pajak) ; kelalaian petugas

b. biasanya pendaftaran WP baru dengan cara kolektif tidak memenuhi persyaratan semestinya yakni ada WP yang didaftarkan dengan nama lengkap dan hanya dengan nama Alias atau sekedarnya saja (dengan tujuan mempermudah dan memperbanyak OP baru dengan tujuan menaikkan target PBB) ; kelalaian wajib pajak dan petugas

c. pergantian (Mutasi/Pindah Tugas) petugas pendata dan pemungut pajak ; kelalaian petugas

(Usulkan untuk di Bekukan atau dihapus)


3. Objek Pajak Tidak ada ;

Mengapa ?

a. sesuai dengan poin 2 (a) di atas dan petugas tidak melakukan pengecekan kelapangan terhadap OP dan WP baru ; kelalaian petugas

b. OP hilang oleh alam (bencana alam seperti banjir, erosi, Abrasi, dll) dan oleh Manusia (waduk/danau buatan, dll)

(Usulkan untuk di Bekukan atau dihapus)


4. Wajib Pajak Tidak Dikenal ;

Mengapa ?

a. penggunaan nama alias oleh WP atau nama Asli (sesuai ID) dimana petugas tidak tahu nama alias ataupun nama asli WP. Ini didukung oleh kultur suatu suku yang sering menyingkat nama ; kelalaian petugas

b. pergantian (Mutasi/Pindah Tugas) petugas pendata dan pemungut pajak ; kelalaian petugas

c. WP tidak berdomisili di wilayah OP yang terdaftar (lain Dusun/Lingkungan) ; dan WP bukan penduduk di wilayah OP dimaksud (lain Dusun/Lingkungan, lain Desa/Kelurahan, lain Kecamatan, lain Kabupaten/Kota, propinsi) ; kelalaian petugas

d. WP berganti (perpindahan/pergantian kepemilikan OP) tanpa pemberitahuan/pelaporan ; kelalaian WP

(Usulkan untuk di Bekukan)


5. Wajib Pajak Ganda ;

Mengapa ?

a. idem poin 1 (a) dan (b) ;

b. idem poin 2 (a) dan (b) ;


(Usulkan untuk di Bekukan atau dihapus salah satunya)


6. Alamat Wajib Pajak Tidak Terjangkau (luar kota/kab/Propinsi);

Mengapa?

- WP pindah domisili ; sehingga SPPT tidak tersampaikan

(Usulkan untuk di Bekukan)


7. Besaran Pajak Terlalu Tinggi/Mahal ;

Mengapa?

a. Pengisian Formulir tidak dilakukan dengan keadaan yang sebenarnya ;

b. kondisi keuangan WP tidak seperti sewaktu OP didaftarkan ; WP bangkrut dan tidak ada melaporkan ke petugas pajak ; kelalaian WP

c. OP sudah dijual sebahagian dan tidak dilaporkan ke petugas pajak ; kelalaian WP

(Usulkan untuk diperbaiki Besaran Nilai Rupiahnya)


Akibat dari kesemuanya Realisasi Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan tidak tercapai 100%..

jadilah Ia tunggakan dari tahun ketahun...


TERUS..., SOLUSI APA YANG BISA DIAMBIL?

Solusinya adalah :

(maaf....., solusi ini tidak bisa menghilangkan masalah PBB, hanya bisa mengurangi)

1. Petugas Pemungut Pajak (Pemerintah Daerah-Desa/Kelurahan/Kecamatan/Kota/Kabupaten) melakukan Evaluasi Data Wajib Pajak (dengan sukarela-supaya cepat) dengan melakukan pengklasifikasian jenis masalahnya (seperti disebut di atas) ; kalau bisa menggunakan data yang dibagikan terbaru (DHKP dan SPPT) dari kantor Pelayanan Pajak (untuk daerah penulis biasanya dibagikan pada bulan April).

2. Nah dari data itu, lakukan pengklasifikasinnya sesegera mungkin dan laporkan ke Kantor Pelayanan Pajak ;


Tindakan yang dilakukan oleh Petugas Kantor Pajak bisa berupa (dengan dasar laporan dan disertai dengan data terbaru tentang OP/WP) ;

a. poin 1 OP ganda : dibekukan salah satunya atau bahkan dihapus ;

b. poin 2 OP tidak dikenal : dibekukan ;

c. poin 3 OP tidak ada : dibekukan atau bahkan dihapus ;

d. poin 4 WP tidak dikenal : bisa jadi tidak ditanggapi ;

e. poin 5 WP ganda : dibekukan salah satunya atau bahkan dihapus ;

f. poin 6 WP Pindah Domisili : bisa jadi tidak ditanggapi ;

g. poin 7 Besaran Pajak Terlalu Besar/Tinggi : dihitung ulang untuk disesuaikan besaran PBB nya.


Sekian...

Semoga membantu.........